oleh

Ultah ke 75: Jatuh Bangun Perjuangan Seorang Ayah

RAUT wajahnya terlihat menua. Urat-urat di lengannya tampak menonjol. Kulit tangannya menghitam legam. Pertanda bahwa perjalanan hidupnya tidaklah pendek. Pertanda bahwa lika liku hidupnya penuh perjuangan.

Nasehat yang sering saya ingat saat kecil adalah “Kamu harus sekolah yang tinggi”. Ia memang tidak sempat sekolah tinggi, hanya lulus SMEA. Lalu putus sekolah, karena abang tempat satu-satunya ia bergantung, meninggal dunia. Ia sudah yatim piatu sejak kecil.

Setelah lulus SMEA sebelum abangnya meninggal, ia sudah diterima sebagai mahasiswa di beberapa perguruan tinggi. Tahun 1960-an, sangat sedikit yang diterima kuliah di perguruan tinggi. Ia termasuk diantara sedikit siswa pintar di sekolahnya. Sayangnya, kematian abangnya yang tiba-tiba, membuat cita-citanya kandas. Abangnya adalah seorang pengusaha sukses saat itu.

Saya membayangkan, jika nasib memihaknya, mungkin ia sudah menjadi pejabat penting era Orde Baru. Atau menjadi profesor jaman Pak Harto. Tapi, nasib seseorang tak ada yang tahu.

Ia harus melakukan mobilitas sosial ke bawah, dari keluarga kelas menengah menjadi kelas bawah. Ia harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup. Ia mencoba menjadi pedagang keliling, berjualan apa saja di pasar. Sampai akhirnya membawanya menjadi petani kecil di kampung kelahirannya. Ia lalu menggarap beberapa petak kecil tanah sawah warisan untuk menyambung hidup.

Saat saya kecil sampai SMP tahun 1980-an, ia masih membajak sawah dengan menggunakan sapi. Setiap akhir pekan, saya menemaninya ke sawah. Saya mendengar semua nasehat dan petuahnya. Sawah warisan kecil saja, hanya cukup memberi makan keluarganya selama 8 bulan dari 12 bulan dalam setahun.

Meskipun cita-citanya kandas ditengah jalan, ia tak pernah patah semangat. Ia terus berjuang menurut kemampuan, bertahan hidup secara jujur dan bermartabat sebagai petani kecil, di tengah berbagai keterbatasan dan kesulitan.

Ia berhasil. Setidaknya, 6 dari 8 orang anaknya menjadi sarjana. Ia juga menjadi tokoh yang sangat dihormati di desanya.

Ia adalah ayahanda saya: Bapak Usman Musa. Selamat ulang tahun yang ke 75 ayahanda. Semoga kesehatan dan keberkahan hidup selalu menyertai. Amin YRA. (Admin)