oleh

Sang Pemimpin

Oleh Yusdi Usman

Manusia itu makhluk sosial. Mereka tak bisa hidup soliter. Mereka harus hidup dalam komunitas. Komunitas itu bisa berbasis apa saja: keluarga, etnis, kelompok profesional, negara, perusahaan, bahkan kelompok mafia. Setiap komunitas mempunyai nilai, norma dan aturan yang berbeda-beda dan mengikat anggotanya.

Pemimpin hadir untuk mengelola sebuah komunitas, supaya tatanan sosial yang disepakati bersama dalam komunitas bisa dijalankan dengan baik. Intinya ada pada tatanan sosial (social order) dalam sebuah komunitas. Pemimpin komunitas lahir dengan berbagai cara, ada yang ditunjuk, dipilih, dan ada juga yang turun-temurun.

Dalam sebuah negara demokrasi misalnya, pemimpin di berbagai level dipilih melalui mekanisme pemilihan umum. Sementara pemimpin agama misalnya, dipilih melalui mekanisme berbeda, tergantung bagaimana komunitas agama-agama membangun tatanan sosial di dalam komunitasnya.

Dalam sebuah negara demokrasi, legitimasi pemimpin formal diperoleh melalui pemilihan umum. Sebaliknya dalam sebuah komunitas agama, legitimasi pemimpin diperoleh dari kharisma yang dimiliki sang pemimpin dan diakui oleh anggota komunitasnya.

Kharisma biasanya terbentuk dari kelebihan-kelebihan personal yang dimiliki sang pemimpin. Dalam masyarakat modern, kharisma bisa diperoleh dari ketinggian ilmu, kapasitas memimpin, dan sebagainya. Sedangkan dalam masyarakat tradisional, kharisma terbentuk dari garis keturunan keluarga. Seiring dengan berkembangnya kapitalisme, kharisma juga menguat melalui kekuatan uang.

Namun, kepemimpinan dalam negara demokrasi biasanya merupakan kombinasi antara legitimasi dari otoritas formal dengan karisma yang dimiliki sang pemimpin. Artinya, orang-orang yang mempunyai kharisma lebih mungkin dipilih dalam proses politik elektoral dibandingkan dengan mereka yang tidak mempunyai kharisma.

Lalu, bagaimana jika pemimpin tak berkharisma lahir dari proses demokrasi elektoral. Tak masalah sejauh mekanisme demokrasi elektoral dijalankan sesuai prosedur. Namun demikian, seringkali, pemimpin tak berkharisma berkaitan erat dengan kontestasi politik yang tidak memungkinkan pemimpin kharismatik muncul ke permukaan, yang disebabkan oleh berbagai faktor.

Seringkali, mekanisme politik elektoral direkayasa sedemikian rupa sehingga pemimpin-pemimpin kharismatik gagal sebelum kontestasi. Dalam kondisi ini, pemimpin-pemimpin tak berkharisma bisa melanggeng dengan lancar. Rakyat pun tak punya pilihan, selain menerima pilihan yang sudah disodorkan. Tentu sah secara prosedur, namun cacat secara etika.

Tugas kepemimpinan adalah tugas mentransformasikan visi dan misi bersama sebuah bangsa/ daerah/ komunitas, untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin buruk adalah pemimpin yang tidak mampu dan gagal mentransformasikan visi dan misi ini, sehingga cita-cita dan tujuan bersama tidak dapat dicapai.

Anggaplah pemimpin yang tidak berkharisma ini juga merupakan seburuk-buruk pemimpin. Jika suatu ketika, kita berhadapan dengan kondisi ini, yakni dipimpin oleh seburuk-buruk pemimpin, di berbagai tingkatan pemerintahan, bagaimana seharusnya?

Bersabar adalah pilihan terbaik. Sejauh mekanisme demokrasi masih berjalan, maka ikuti saja prosedur demokrasi itu untuk melahirkan pemimpin yang lebih baik.

Bagaimana jika kekuatan oligarki sudah mencengkeram berbagai arena, sehingga upaya untuk melahirkan pemimpin yang lebih baik menjadi tidak memungkinkan? Bila kondisi ini terjadi, secara teoritis, saya mempunyai banyak pilihan solusi untuk dilakukan. Sayangnya, tidak bisa saya jelaskan dalam kolom ringkas ini.

Singkatnya, jika seburuk-buruk pemimpin hadir, maka bersabarlah, sejauh mekanisme demokrasi masih memungkinkan lahirnya pemimpin yang lebih baik, di masa yang akan datang.

Yusdi Usman adalah sosiolog dan pengamat perubahan sosial.

Depok, 17 Pebruari 2021