oleh

Paradoks Korupsi

Layar televisi dan media sosial sering dihiasi oleh orang-orang dengan rompi oranye. Orang-orang ini hadir pada waktu-waktu penting acara televisi, atau orang menyebutnya dengan prime time atau jam tayang utama. Di Indonesia, jam tayang utama itu termasuk berbagai acara berita televisi. Di jam tayang utama inilah, orang-orang berompi oranye itu sering dihadirkan.

Layar televisi kita juga punya beragam acara yang tidak tayang di prime time. Salah satunya adalah berita kriminal yang biasanya hadir sebelum dan sesudah prime time atau pada tengah malam. Berita kriminal ini menghadirkan berbagai berita seperti kasus pencurian, perampokan, pembegalan, dan berbagai kasus kriminal lainnya.

Apa yang membedakan kedua tipologi kasus tersebut, baik yang tayang pada prime time dan bukan prime time televisi? Tipologi pertama, aktor-aktornya disebut dengan koruptor dan tindakannya disebut dengan korupsi. Sementara tipologi kedua, aktor-aktornya disebut dengan beragam istilah, termasuk maling, perampok, begal, dan sebagainya.

Untuk memudahkan analisis, kita sederhanakan saja kedua tipplogi aktor dengan sebutan koruptor dan maling. Selain jam tayang televisi, apa yang membedakan koruptor dan maling? Bukahkah keduanya sama saja, sama-sama mencuri, merampok, dan membegal hak orang lain, meskipun cara, ukuran dan modusnya berbeda?

Benar, secara substantif semuanya sama. Mereka adalah maling. Namun, dalam arena sosial, kedua kategori permalingan ini mendapat status sosial berbeda. Koruptor terlihat mempunyai status sosial lebih tinggi dibandingkan dengan maling. Sedangkan maling adalah aktor dengan status sosial terendah dalam piramida permalingan.

Status sosial ini berdampak pada cara pandang masyarakat. Karena mendapat status sosial yang lebih tinggi, tingkat hukuman sosial (social punishment) terhadap koruptor cenderung lebih rendah dibandingkan maling. Masyarakat cenderung bersikap toleran terhadap korupsi, namun agresif saat berhadapan dengan maling-maling kecil.

Karena itu, tidak heran kalau kita sering mendengar ada maling yang mati dihakimi ramai-ramai, atau ada begal yang dibakar hidup-hidup. Di tempat lain, kita juga membaca berita bahwa sejumlah koruptor memenangkan pilkada.

Nuansa paradoksal dalam arena sosial ini tentu saja bukanlah kondisi ideal yang kita inginkan. Masyarakat juga tidak bisa disalahkan dalam menilai paradoks permalingan ini. Yang salah adalah pelabelan kelas sosial berbeda kepada koruptor dan maling, yang dilakukan oleh negara, aparat penegak hukum, dan kita semua.

Coba pelabelan kelas sosial dalam dunia permalingan ini kita hilangkan. Mungkin, kondisi akan berbeda, dan dukungan masyarakat dalam pemberantasan korupsi akan lebih sempurna.

Yusdi Usman adalah CEO RIB, sosiolog, dan pengamat perubahan sosial.