oleh

Multilayer Imaji

Oleh Yusdi Usman

Kegaduhan itu masih belum mereda di ruang publik kita. Kelihatannya, ia akan masih berlangsung dan berulang. Orang menyebutnya itu dengan konflik kepentingan atau konflik politik atau istilah lainnya. Namun yang jelas, kegaduhan itu adalah bagian dari rekayasa sosial antar aktor yang bertujuan saling melakukan delegitimasi.

Mengapa mereka perlu melakukan upaya saling mendelegitimasi? Karena, di dalam kegaduhan itu ada kontestasi. Kontestasi terjadi dalam rangka memperebutkan kepentingan, baik kepentingan ekonomi politik, maupun kepentingan untuk membangun imaji sosial.

Di sisi lain, rekayasa sosial dibangun untuk memperkuat imaji, dan seiring berjalannya waktu, akan melahirkan multilayer imaji. Multilayer imaji ini akan berdampak pada kesadaran publik tentang berbagai fenomena sosial yang secara langsung tidak menguntungkan aktor-aktor powerful. Publik hanya akan ingat pada layer terakhir dari sebuah fenomena sosial. Lapisan-lapisan sebelumnya mudah dilupakan.

Dalam sebuah bangsa dimana peradaban modern sudah berjalan bagus dan tatanan sosial sudah terinstitusionalisasi dengan kuat, maka tidak diperlukan adanya rekayasa sosial berlebihan untuk membangun imaji dan multilayer imaji secara sosial. Tatanan sosial yang terlembaga dengan kuat akan membangun pola relasi kuasa inklusif di satu sisi dan “aktor-aktor baik” bisa berperan secara optimal dalam menjaga tatanan sosial tersebut.

Berbeda dengan bangsa kita yang tatanan sosialnya masih lemah proses pelembagaannya, maka rekayasa sosial untuk membangun imaji dan multilayer imaji akan terus berlangsung dan berulang.

Yang menjadi tantangan adalah apakah multilayer imaji ini menguntungkan kita? Jawabannya tidak! Ia akan merugikan kita sebagai bangsa, sebagai warga negara. Rekayasa sosial yang melahirkan multilayer imaji ini hanya akan memudahkan aktor-aktor jahat dan powerful dalam menguras sumberdaya alam kita, merampok uang negara kita, dan membuat bangsa ini menjadi miskin dan terbelakang.

Karena itu, secara bertahap, upaya penguatan institusionalisasi terhadap tananan sosial kita, secara ideal, perlu terus dilakukan. Tatanan hukum, tatanan politik dan tatanan ekonomi yang masih ringkih, perlu kita perbaiki dan benahi bersama.

Jika tidak, maka rekayasa sosial untuk melahirkan multilayer imaji sosial dalam masyarakat akan terus berlangsung dan berulang. Jika pengulangan ini menemukan momentum titik jenuh secara sosial, maka ia akan menjadi air bah perubahan.

Yusdi Usman adalah CEO RIB, sosiolog, dan pengamat perubahan sosial.