oleh

Menikmati Secangkir Kopi Sanger

Sanger, sebuah nama yang aneh. Saya mendengar nama ini sejak tahun 2005. Namun, menurut sahibul hikayat, nama sanger ini berkaitan erat dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997. Krisis ekonomi ini memporak-porandakan ekonomi Indonesia dan melahirkan reformasi politik tahun 1998.

Fahmi Yunus, seorang akademisi di Banda Aceh, yang menjadi sahibul hikayat sanger ini mengatakan dalam sebuah group whatsapp beberapa waktu lalu bahwa sanger ini merupakan racikan kopi susu hasil negosiasi antara para mahasiswa dan pemilik warung kopi di Banda Aceh saat krisis tahun 1997 itu.

Saat itu, para pemilik warung kopi mulai menaikkan harga kopinya, sementara mahasiswa tidak mampu membeli kopi hitam dan kopi susu dengan harga baru. Lalu, lahirlah negosiasi supaya komposisi gula dan susu dikurangi, sehingga harga kopi susu tetap ramah di kantong mahasiswa yang sedang menghadapi krisis ekonomi.

Dari situ, para pemilik warung kopi dan mahasiswa sama-sama mengerti atas kondisi krisis yang sedang terjadi. Istilah “sama-sama mengerti” ini kemudian disingkat menjadi “sanger”.

***

Berangkat dari cerita tersebut, kita jadi paham kalau sanger ini sejenis racikan kopi dan susu. Namun berbeda dengan kopi susu yang lebih dominan susunya, sehingga nuansa dan aromanya memang susu dan kopi. Berbeda juga dengan sejumlah racika kopi lainnya yang berbahan susu, seperti cappucino dan teman-temannya.

Sanger ini khas paduan kopi dan susu, namun nuansa kopinya lebih kuat. Bagi yang tidak suka susu, sanger ini bisa menjadi alternatif menikmati kopi yang ada aroma susunya. Terus terang, sejak bersentuhan dengan sanger, saya menjadi kurang suka dengan kopi susu. Entah kenapa hehe..

Racikan sanger memang masih sangat lokal, khas di Aceh. Sementara di luar Aceh, cita rasa sanger hanya bisa kita temui di berbagai warung kopi atau cafe-cafe yang dikelola oleh orang Aceh. Di Jakarta misalnya, saya sering meningkati sanger ini di sebuah cafe di kawasan Pasar Minggu, yakni Jambo Kupi.

Ada sejumlah pemuda kreatif di Aceh yang sudah mengolah cita rasa sanger ini dalam bentuk kopi sashet. Namun demikian, karena sanger ini belum dikenal luas seperti cappucino, maka pemasarannya masih bersifat lokal saja.

Terlepas apapun kondisinya, citarasa kuliner nusantara seperti sanger ini perlu disebarluaskan sehingga bisa dinikmati oleh lebih banyak masyarakat kita. (yu)