oleh

Menaklukkan Gudeg Jogja

Gudeg, adalah sebuah nama yang selalu mengiang di telingaku sebelum tiba di Jogja. “Aku harus mencobanya, apapun rasa makanan itu”, pikirku saat masih dalam perjalanan ke Jogja. Bagaimanapun, aku harus bisa menaklukkan makanan itu, yang tentu saja sangat berbeda dengan cita rasa makanan yang sering kumakan selama ini.

Terus terang, aku agak kuper dengan makanan luar. Makanan sehari-hari yang dominan kumakan adalah makanan dengan cita rasa Aceh yang kaya rempah, berlemak dan berminyak. Apa jadinya saat aku mencoba makanan dengan cita rasa cenderung manis di Jogja, seperti gudeg ini?

Setelah tiba di Jogja pada bulan Juni 1994, aku dan temanku Syahrul, menumpang sementara di kontrakan abangnya (Khairul Kamal-saat itu mahasiswa UII) di perumahan Dayu Permai, kalau tidak salah lokasinya di jalan Kaliurang km 9. Di kontrakan itu, abang Syahrul tinggal bersama dua orang temannya sesama mahasiswa UII Jogja. Syahrul dan aku menumpang sampai selesai UMPTN tahun 1994.

Pagi itu, masih bulan Juni 1994. Aku diajak keliling kota Jogja oleh salah satu teman abang Syahrul, sebut saja Mus. Mus mengajakku melihat-lihat kondisi Kota Jogja saat pagi hari setelah subuh. Masih sepi. Kami keliling dari rumah ke Monjali, belok kiri melewati ring road utara, lalu belok kanan masuk ke jalan Kaliurang menuju UGM.

Mus bercerita bahwa di sekitar UGM, khususnya di sepanjang jalan Kaliurang ini, banyak mbok-mbok penjual gudeg pada pagi hari. Mereka hanya menjual gudeg sejak setelah subuh sampai sekitar jam 7 pagi saja. Biasanya, dalam dua jam, gudek mbok-mbok itu sudah habis terjual.

Jelang kampus UGM dekat selokan mataram, kami berhenti di salah satu penjual gudeg di jalan Kaliurang. Kami duduk lesehan di tikar. Kuperhatikan dengan seksama semua makanan yang dijual si mbok. Ada bakul nasi, gudeg berwarna coklat, kuah berisi daging ayam, telur rebus, krecek, dan teman-temannya. Juga ada tempe dan tahu goreng, ceker ayam, dan lain-lain yang tidak kuingat semuanya.

Saat mbok gudeg menyerahkan satu porsi gudeg kepadaku, aku cicipi pelan-pelan. Rasanya memang agak aneh untuk lidahku yang terbiasa dengan rasa masakan Aceh dan Minang. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana cita rasa gudeg yang kucicipi pagi itu. Yang jelas, aku belum terbiasa dengan makanan rasa manis ini.

Akhirnya, aku hanya makan nasi hangat dengan telur dan tempe goreng. Gudeg dan kawan-kawannya kusisakan dalam piring berlapis daun pisang itu. Mus senyum-senyum melihat caraku mencicipi gudeg. Untung mbok gudeg gak memperhatikan cara aku makan. Ia terlalu sibuk melayani pelanggan.

Beberapa orang yang makan gudeg di lesehan bersama kami, kulihat beberapa kali menoleh ke arahku dan memperhatikan caraku makan yang hanya melihat-lihat, menjilat-jilat dan mencium aroma gudeg. Mungkin mereka heran atau memaklumi bahwa di Jogja banyak mahasiswa luar daerah yang baru datang dan belum terbiasa dengan makanan khas Jogja ini.

Saat pulang dengan motor, Mus tertawa terbahak-bahak meledekku sepanjang jalan. Begitulah pengalaman pertamaku makan gudeg. Kira-kira butuh waktu satu tahun bagiku untuk bisa bersahabat dengan makanan satu ini. Sejak bisa kutaklukkan, gudeg menjadi salah satu makanan favoritku di Jogja.