oleh

La Galigo: Kontestasi Oligarki Lokal Sulawesi Selatan

PENGANTAR

Catatan ini ditulis oleh sahabat saya: Qodja, seorang intelektual muda Sulawesi Selatan. Cerita ini berkaitan dengan kontestasi oligarki lokal di Sulawesi Selatan, lahirnya oligarki lokal baru, kontestasi JK dengan istana, dan berkelindan dengan ditangkapnya penerima “Bung Hatta Anticorruption Award” tahun 2017, Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, oleh KPK kemarin (27/2/2021). Selamat membaca!

***

Saya membawa sedikit oleh-oleh cerita di kepulangan terakhir ke Sulsel akhir tahun 2020. Dalam sebuah obrolan santai di sebuah warung kopi tradisional di jalan Hertasning Makassar bersama teman-teman, saya sempat bertanya: “Setelah era reformasi, adakah muncul kelompok pengusaha pribumi baru di luar Grup Kalla & Bosowa?

Sejenak tak ada seorang pun teman saya yang menyahut. Sampai kemudian salah satu dari teman seperkopian berucap: “Ada itu Grup Tiran”. Yang lain menimpali apa yang dimaksud Tiran, yaitu Tikus Mati Diracun Amran.

Grup Tiran sejak dulu dikenal sebagai usaha kelas menengah yang menyuplai kebutuhan racun tikus proteksi tanaman padi, dan lain-lain. Kelak Grup Tiran mendapatkan momentum cuan berlimpah seiring dengan pesatnya pertumbuhan sektor pertanian di Sulsel yang berujung pada swasembada beras. Surplus beras di Sulsel 10 tahun belakangan mampu menyuplai ke wilayah ujung timur Indonesia dan sekitarnya.

Eksistensi Andi Amran Sulaiman di bisnis pertanian menjadikannya sosok potensial yang diperhitungkan untuk menggeser hegemoni bisnis Grup Kalla & Bosowa yang sudah lama mengakar di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur.

Supremasi Amran sebagai salah satu pengusaha kelas atas ditandai dengan rencana pembangunan tower di salah satu jalan strategis kota Makassar, yang konon diproyeksikan menjadi kantor satelit, pemasaran dan penyimpanan gula kualitas premium produksi pabrik gula terbesar se-Asia Tenggara di Bombana Sulawesi Tenggara, yang didirikan oleh sepupu Amran, pengusaha diaspora Bugis keturunan Bone yang berjaya di Kalimantan Selatan, yang disebut oleh Tempo sebagai “The Coal Capitalist” yaitu Andi Syamsuddin Arsyad atau tenar dikenal sebagai H. Isham pendiri Jhonlin Grup.

Analisa kelas warung kopi dari teman seperkopian menyebut bahwa tampilnya Amran sebagai sosok potensial di oligarki bisnis Sulawesi Selatan tak lahir dari ruang hampa. Ada banyak situasi-situasi yang saling terkait hingga menghadirkan momentum Amran. Teman saya menguraikannya dengan sangat canggih, seolah analisanya akan digunakan untuk operasi intelejen hehehe.

Pertama, Amran memang pengusaha potensial di sektor pertanian yang mendapatkan momentum dari swasembada beras di Sulsel. Di saat yang sama, sektor pertanian memang luput untuk diokupasi oleh menuver bisnis Grup Kalla & Bosowa sehingga bisnis Amran bisa tumbuh besar dan kuat di sektor itu tanpa harus dibonsai terlebih dahulu oleh kekuatan pemodal yang lebih besar.

Kedua, koneksi Amran dengan H. Isham. Kedekatan dengan pengusaha nasional yang sedang naik daun, dekat dan berpengaruh di kekuasaan Jokowi melambungkan nama Amran di level nasional. Prestasi Amran bisa dijual dan tentu kekuatan lobi H. Isham membawa namanya masuk kedalam kabinet Jokowi periode pertama.

Ketiga, kian berjaraknya Grup Kalla & Bosowa dengan kekuasaan Jokowi. Kata teman saya, Kalla dianggap oleh sebagian elit sebagai kerikil dalam kekuasaan Jokowi. Hal itu dimulai sejak naiknya Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga yang teranyar kepulangan HRS ke Indonesia yang dianggap didalangi oleh tokoh dari Kalla Group. Konon, kelompok elit di lingkaran RI 1 sedang mengupayakan bagaimana mengakhiri dominasi ekonomi dan politik klan Kalla-Bosowa di Indonesia Timur. Caranya dengan menghadirkan proxy yang dibidani oleh penguasa diaspora Bugis yang bisnisnya besar di perantauan dan dekat dengan elit di lingkar RI 1.

Keempat, situasi kebatinan rakyat Sulsel yang umumnya jenuh dengan hegemoni di sektor ekonomi oleh Grup Kalla dan Bosowa di Sulsel. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sangat sulit bagi pengusaha baru untuk berbisnis di sektor properti, pertambangan, transportasi dan logistik, pembangkit & instalasi listrik, perdagangan otomotif & emas yang merupakan sektor-sektor usaha yang sudah lama dikuasai Grup Kalla & Bosowa. Jangankan untuk berbisnis, bahkan untuk sekadar bekerja di perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan kedua grup itu, konon membutuhkan “orang dalam”. Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya kesenjangan ekonomi di Sulsel yang tergambar pada rasio gini yang konsisten berkisar di sekitar angka 0,4.

Masyarakat Sulsel seperti jengah dan menuntut adanya perubahan dominasi. Situasi yang tergambar di Pemilihan Walikota (Pilwako) Makassar tahun 2020 yang menampilkan paslon dari Grup Kalla yang dua kali kalah. Masyarakat Makassar seolah ingin mengirim pesan, siapapun boleh jadi Walikota asal bukan dari Grup Kalla atau Bosowa. Dan itulah yang terjadi di putaran pertama kotak kosong keluar sebagai pemenang.

Di putaran kedua, paslon penantang Dani Pamanto, tokoh perencana kota yang sempat membikin kontroversi karena menuduh JK sebagai dalang kepulangan HRS ke Indonesia, keluar sebagai pemenang.

Keempat situasi di atas yang dimaksud teman saya sebagai sebab-sebab, baik langsung maupun tak langsung bagi hadirnya kelompok Amran atau Grup Tiran di belantika pebisnis oligarki Sulsel.

Di satu sisi, Grup Tiran tumbuh secara organik karena berhasil mengakumulasi pertumbuhan bisnis di sektor pertanian, tapi di sisi lain, ada momentum politik vertikal dan horizontal yang menghadirkan kondisi untuk mengakhiri dominasi Grup Kalla & Bosowa. Entah Grup Tiram menyadari hal tersebut atau tidak, tapi bukankah pergiliran kekuasaan politik & ekonomi seringkali terjadi akibat sebab-sebab yang kompleks. Selalu ada proxy untuk menghadirkan equilibrium baru.

Teman saya menambahkan analisanya yang saking serunya bikin segelas kopi cawan kecil tak kunjung tandas, bahwa SYL (Syahrul Yasin Limpo), penguasa Sulsel 2 periode sebelumnya, sejak lama menggandeng Amran sebagai mitra strategis untuk melawan dominasi Kalla-Bosowa. Semua warga Sulsel tahu bagaimana sengitnya rivalitas kelompok penguasa dari Gowa ini dengan grup Kalla-Bosowa.

Perhitungannya karena sektor pertanian dipandang masih lowong dan dapat melahirkan oligarki baru dengan sokongan kekuasaan, pertanian juga bisa dijadikan program unggulan untuk mensejahterakan masyarakat dan mengukuhkan prestasi SYL sebagai Gubernur Sulsel. Dan calon oligarki yang perlu digandeng adalah Grup Tiran, potensial karena kehandalannya di bisnis pertanian, dan koneksi dengan Grup Jhonlin.

Dan sejauh ini kemitraan strategis Grup Tiran & SYL berjalan mulus mengingat keduanya secara bergantian menjabat di pos kementrian yang sama di 2 periode kekuasaan Jokowi. Grup Tiran dengan sokongan Grup Jhonlin bisa mulai vis to vis dengan Grup Kalla-Bosowa di saat yang sama kelompok penguasa asal Gowa atau Klan Yasin Limpo bisa mengukuhkan dominasinya di sektor birokrasi.

Sungguh penjabaran yang apik sekali dari rekan seperkopian saya yang lama menganggur akibat pandemi. Kini teman saya harus bertahan hidup dengan menjadi pengemudi ojek online.

Saya lalu menyelesaikan tegukan terakhir sembari menambahkan, “Bukannya Wagub sekarang itu adik Pak Amran ya?” “Betul”, sahut salah satu teman saya.

Teman saya pengemudi ojol menambahkan bahwa telah terjadi friksi antara Prof Nurdin Abdullah dengan wakilnya itu.

Situasi bermula saat Wagub tanpa persetujuan Gubernur melakukan mutasi dan pengangkatan pejabat Eselon III & IV. Total ada 193 pejabat level Kabid & Kasi yang pelantikannya dianulir oleh Prof Nurdin. Bayangkan, SK pengangkatan pejabat eselon III & IV di level Provinsi tanpa tanda tangan Gubernur.

Sejak saat itu aroma ketegangan keduanya mewarnai situasi di kantor Gubernur. Apakah OTT KPK terhadap Gubernur Sulsel Prof. Nurdin Abdullah ada kaitannya dengan kontestasi oligarki lokal ini? #