oleh

Aktivis, Pejuang Reformasi, Ketua Senat Mahasiswa UGM, Lantas IP Nol

Pernahkan anda mendapatkan IP (Indeks Prestasi) 0 (nol) saat kuliah? Saya yakin ada diantara anda pernah mendapatkan IP nol. Banyak sebab yang membuat anda tidak bisa belajar dan akhirnya mendapat nilai semester nol. Ada yang mengalami kendala ekonomi, sehingga harus bekerja sambil kuliah, atau tidak cocok jurusan keilmuan yang dipilih, atau banyak juga yang sibuk dengan pacaran haha.

Namun, adakah diantara anda yang informasi IP nol dimuat di media nasional? Saya yakin tidak ada. Hanya saya yang mengalaminya tahun 1999. Saat itu, saya diberi amanah menjadi Ketua Senat Mahasiswa UGM periode 1998-1999. Menjadi ketua sebuah organisasi penting dengan membawa nama besar UGM tentu tidak mudah dan tidak ringan. Apalagi pada waktu itu sedang berlangsung transisi politik nasional: reformasi 1998.

Saya dan teman-teman saya sesama aktivis di Senat Mahasiswa UGM mengemban amanah berat untuk mengawal reformasi 1998, setelah sebelumnya berhasil meruntuhkan rezim otoriter Orde Baru. Transisi demokrasi dari otoriterianisme Orde Baru ke era demokrasi membutuhkan pengawalan yang sangat serius dari berbagai elemen masyarakat, kalangan intelektual, aktivis mahasiswa, dan berbagai elemen pro reformasi.

Mengapa? Reformasi 1998 bukanlah sebuah perubahan mendasar seperti revolusi. Reformasi 1998 masih mengakomodasikan pemikiran dan kekuatan-kekuatan lama Orde Baru yang bermertamorfosis menjadi kekuatan baru dan mengklaim pro reformasi. Kekuatan lama ini berasal dari berbagai aktor Orde Baru yang membonceng kekuatan pro reformasi.

Karena itu, perlu ada upaya untuk mengawal sejumlah agenda reformasi, terutama pada tahun-tahun awal transisi politik ini berlangsung. Kondisi ini membuat agenda konsolidasi politik yang saya lakukan bersama jaringan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil pro reformasi di tingkat nasional menjadi sangat padat. Waktu saya sebagai Ketua Senat Mahasiswa UGM, sebagian saya habiskan di Jakarta dan sebagian lagi di Jogja. Kondisi ini membuat saya tidak sempat masuk kuliah sekalipun.

***

Biasanya, saya, Sekjen Dr. Megandaru Kawuryan, Ketua Komisi Politik Dr. Andi Yanuardi, dan beberapa tim saya lainnya, sering didatangi wartawan pada tahun-tahun 1998-1999 itu, untuk berbagai keperluan wawancara atau diskusi berbagai isu sosial dan politik nasional setelah kejatuhan Orde Baru. Saat itu, euforia reformasi 1998 sedang kuat-kuatnya.

Suatu hari, seorang wartawan majalah nasional Gatra mengajak saya diskusi santai sambil ngopi di sekitar gelanggang mahasiswa UGM. Dia tanya-tanya tentang nilai Indeks Prestasi (IP) saya. Saya bilang bahwa IP saya semester lalu NOL. Eh, beberapa hari kemudian keluar jadi berita nasional.

Aktivis, pejuang reformasi, ketua senat, lantas nilai jeblok”, tulis GATRA.. hahaha

Yusdi Usman, Depok, 2021. Foto depan: bbc.com